Sahabat.com - Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Bengkulu mencatat, hingga saat ini realisasi pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pajak bumi dan bangunan (PBB) di wilayah tersebut mencapai Rp12,1 miliar.
Realisasi PAD dari PPB tersebut baru mencapai 52,45 persen dari target yang telah ditetapkan sebesar Rp23 miliar dan belum maksimalnya capaian tersebut disebabkan dikarenakan masih banyak masyarakat yang belum membayar pajak.
"Pembayaran PBB ini sebenarnya batas November 2023, tetapi kita lakukan perpanjang hingga 31 Desember 2023. Sehingga masih ada sisa waktu bagi masyarakat segera melunasi," kata Kepala Bapenda Kota Bengkulu Eddyson di Bengkulu, Rabu.
Ia mengatakan, untuk pencetakan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) seharusnya telah disebar sejak triwulan pertama lalu, namun karena ada sejumlah kendala teknis dan adanya pembaharuan data wajib pajak, maka pencetakan SPPT PBB tersebut baru dibagikan pada triwulan kedua.
Ia menyebutkan, jika mengikuti aturan, seharusnya masyarakat sudah dikenakan denda sebesar dua persen karena telat membayar pajak, namun Pemerintah Kota Bengkulu memberikan kesempatan agar masyarakat tidak dikenakan denda tersebut.
"Kalau sudah masuk Januari 2024 belum juga membayar, baru kita kenakan denda sebesar 2 persen dari jumlah pajak yang ditetapkan," ujar dia.
Untuk mempercepat realisasi PAD dari PBB, terang Eddyson, Bapenda Kota Bengkulu telah bersurat kepada beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di wilayah tersebut untuk melaporkan rekap bukti lunas PBB yang dilakukan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT).
Selain itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kejaksaan Negeri (Kejari) dan dibantu oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Hal tersebut dilakukan agar pelaku usaha di Kota Bengkulu yang selama ini memiliki tunggakan besar memiliki itikad baik untuk mencicil atau membayar pajak sesuai dengan kesepakatan.
Eddyson menjelaskan, rendahnya realisasi PBB karena minim kesadaran masyarakat masih menjadi kendala untuk tercapai maksimal.(Ant)
0 Komentar
Raih Antusiasme Pasar, Sukuk ESG BSI Rp9 Triliun atau Oversubscribe Tiga Kali Lipat
Rupiah Tangguh Rp15.635 per Dolar AS, IHSG Loyo ke Level 7.235 pada Rabu (7/2/2024)
Ekonomi Kaltim Tumbuh 6,22 Persen didorong Listrik dan Gas
BPS: Ekonomi NTB Tumbuh 1,8 Persen
Investasi Pekanbaru Tahun 2023 Capai Rp6,4 Triliun
Dinkes Kota Bengkulu Siapkan Rp17 Miliar untuk Pembangunan RSTG
Rupiah awal Pekan Melemah Jelang Rilis PDB Indonesia 2023
BI: Deflasi di Lampung Akibat Penurunan Harga Sejumlah Komoditas
Rupiah Perkasa Rp15.764 per Dolar AS, IHSG Loyo ke Level 7.201 pada Kamis (1/2/2024)
Rupiah Meningkat Dipengaruhi Data ADP AS Lebih Lemah dari Ekspektasi
BI Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2024 di Atas 5 Persen
Leave a comment