Rupiah Melemah di Tengah Sentimen Risk Off Pasar

22 Februari 2023 06:19
Penulis: Alber Laia, bisnis
Arsip - Petugas menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (3/1/2023). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc/aa.

Sahabat.com - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi, melemah di tengah sentimen risk off di pasar.

Rupiah pada Rabu pagi dibuka turun 24 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp15.214 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.190 per dolar AS.

"Rupiah diperkirakan akan melemah di tengah sentimen risk off pasar, tertekan oleh penguatan dolar AS dan naiknya imbal hasil obligasi AS," kata Analis DCFX Futures Lukman Leong saat dihubungi, di Jakarta, Rabu.

Risk off adalah kondisi di mana investor lebih cenderung untuk menghindari risiko. Sebaliknya risk on adalah kondisi di mana pelaku pasar memilih untuk mengambil risiko. Sebagai dampak risk off, pelaku pasar melepas aset dan mata uang berisiko.

Imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) tenor dua tahun naik ke level 4,681 persen dan tenor 10 tahun meningkat ke posisi 3,939 persen.

Lukman mengatakan investor mengantisipasi sikap hawkish dari Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed dalam risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) atau Dewan Rapat Kebijakan Bank Sentral AS malam ini.

Selain itu, serangkaian data ekonomi kuat dari AS telah menaikkan ekspektasi suku bunga The Fed. Pasar sekarang mengantisipasi puncak suku bunga berada di 5,3 persen dan akan bertahan selama 2023.

Data-data kuat akhir ini meliputi antara lain data tenaga kerja Non-Farm Payroll (NFP), data inflasi yang lebih tinggi, dan klaim pengangguran yang lebih rendah.

Pada Selasa (14/2), Pemerintah AS melaporkan bahwa harga konsumen meningkat secara bulanan pada Januari, naik 0,5 persen, sebagian karena biaya sewa dan makanan yang lebih tinggi.

Kenaikan tersebut sesuai dengan ekspektasi para ekonom dalam jajak pendapat Reuters dan jauh di atas kenaikan 0,1 persen bulan ke bulan pada Desember. Harga tahun ke tahun naik 6,4 persen, turun dari 6,5 persen pada Desember tetapi di atas ekspektasi ekonom untuk ​​​​​kenaikan 6,2 persen.

Sementara itu, klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur PHK, turun 1.000 menjadi 194.000 untuk pekan yang berakhir 11 Februari.

Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini berkisar antara Rp15.150 per dolar AS hingga Rp15.250 per dolar AS.

Pada Selasa (21/2), kurs rupiah ditutup turun 31 poin atau 0,20 persen ke posisi Rp15.190 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.159 per dolar AS.(Ant)

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment