Rupiah Melemah Seiring Naiknya Imbal Hasil Obligasi AS

03 Februari 2023 02:30
Penulis: Alber Laia, bisnis
Ilustrasi - Petugas menunjukan uang pecahan Rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (4/10/2022). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww/pri. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

Sahabat.com - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi melemah seiring dengan naiknya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS).

Kurs rupiah pada Jumat pagi dibuka turun 22 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp14.910 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.888 per dolar AS.

"Rupiah diperkirakan melemah karena dolar AS rebound (menguat kembali) dan naiknya imbal hasil obligasi AS," kata Analis DCFX Futures Lukman Leong saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Lukman mengatakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun naik ke level 4,094 persen dan tenor 10 tahun meningkat ke posisi 3,376 persen.

Penguatan kembali dolar AS ditopang oleh data tenaga kerja yang masih kuat dengan klaim pengangguran AS yang lebih baik dari perkiraan. Investor juga akan menantikan data penting tenaga kerja AS terkait Non-Farm Payrolls (NFP) malam ini.

Non-Farm Payroll adalah data tingkat ketenagakerjaan di Amerika serikat selain dari sektor pertanian, pemerintahan, rumah tangga, dan lembaga-lembaga nonprofit.

Data pada Kamis (2/2/2023) menunjukkan bahwa jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran secara tak terduga turun minggu lalu karena pasar tenaga kerja tetap tangguh meskipun biaya pinjaman lebih tinggi dan kekhawatiran akan resesi meningkat.

Produktivitas pekerja AS juga meningkat lebih cepat dari yang diharapkan pada kuartal keempat, menghasilkan moderasi dalam pertumbuhan biaya tenaga kerja.

Rilis ekonomi utama AS minggu ini adalah laporan ketenagakerjaan pada Jumat untuk bulan Januari, yang diharapkan menunjukkan bahwa pemberi kerja menambahkan 185.000 pekerjaan di bulan tersebut.

Di Amerika Serikat, laporan NFP Jumat (3/2/2023) akan menjadi ujian berikutnya dari perjuangan Bank Sentral AS (The Fed) melawan inflasi, meskipun statistik resmi pada Rabu (1/2/2023) menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan secara tak terduga meningkat pada Desember, menunjukkan pasar tenaga kerja yang masih ketat.

Lukman memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp14.850 per dolar AS hingga Rp15.000 per dolar AS.

Pada Kamis (2/2), nilai tukar rupiah ditutup meningkat 87 poin atau 0,58 persen ke posisi Rp14.888 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.975 per dolar AS.(Ant)

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment